Langsung ke konten utama

HADIRMU

Dua jam sudah ku terjebak didalam ruangan bersama kerumunan orang yang asik dengan dunianya sendiri. Begitupun aku yang masih disini bersamamu bercengkrama dan melepas penat. Seperti biasa dengan secangkir kopi dan juga segelas milkshake dengan sedikit es. Dik, mungkin itu panggilan untuk perempuan yang umurnya setahun lebih muda dariku. Tidak terpaut terlalu jauh namun terkadang umur tidak bisa dijadikan patokan tentang siapa yang lebih dewasa.

Belum lama mengenal dan sekarang kita dalam sebuah komitmen yang bisa dibilang baru saja dimulai. Bagiku itu sulit, bahkan butuh waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan semua ini. Dulu aku pernah pergi, entah karena suatu alasan yang jelas memang meyakinkan hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku tau bagaimana rasanya setelah terlalu dekat kemudian pergi ditinggalkan, salah satu yang membuatku yakin adalah kamu tidak pergi dan menungguku kembali pulang. Benar, Tuhan Maha membolak balikan hati manusia. 

Malam itu, tepat dibawah langit lepas bertemankan bintang dan keramaian kota jogja kala itu, suasana yang membuatku rindu jika sedang tidak di jogja. Sebuah rencana berbahaya yang kutunda berhari-hari pun akhirnya terjadi. Kusiapkan mental baja dengan pertahanan berlapis seperti panglima dalam medan perang. Dengan segala kemungkinan yang bisa kudapatkan pada malam itu. Pasrah, adalah sebuah kata yang bisa mewakili perasaan kala itu. Satu kata yang kutunggu pun akhirnya terucap dengan lantang penuh keyakinan. Bahkan senyum manismu malam itu membuatku yakin dengan apa yang sudah kau ucapkan.

Terimakasih sudah mau menemaniku melihat pelangi setelah menahan terpaan badai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERSINGGAHAN TERINDAH

Malam itu sehabis hujan, bulan dan bintang enggan menyapa. Hanya angin malam yang menyapaku dingin, dan kamu yang memberi kehangatan pada hati yang mulai kau tata hingga rapih. Kusut dan rapuh itu dulu, jauh sebelum ada kita dihidupku. Goresan tinta abu-abu yang semakin tak menentu. Hingga kini kau berikan tinta warna warni tuk menuliskan semua cerita kemarin, hari ini, bahkan esok yang selalu kita citakan. Kadang lucu memperhatikan diri ini yang menjadi kekanakan kala bersamamu, seperti bersama teman masa kecil yang bercanda hingga tertawa lepas tanpa memikirkan dunia yang semakin tak terkendali. Tertawa lepas bersamamu tanpa alasan menjadikanku lupa akan kerasnya kehidupan. Beban yang terasa seolah hilang entah kemana. Menjadi bahagia karena ada kita diantara kamu dan aku adalah hal sederhana yang selalu kujadikan alasan untuk singgah dan menetap.

SEBUAH UPAYA

Setahun sudah kita berpisah dengan alasan yang hingga saat ini tak pernah kumengerti, sebuah pesan singkat muncul di jendela notifikasi yang tak pernah kuharapkan. Sebuah sapaan singkat dan bertanya kabar. Hari terus berlalu hingga kita kembali menjalin komunikasi yang intens setiap harinya. Kenangan yang perlahan mulai bisa kusimpan dalam kotak pun kau bongkar dengan begitu cepat, seolah mengingatkan tentang janji dan semua cita yang pernah didiskusikan bersama. Ujian semester telah usai, kala itu minggu dimana kita pernah menghadiri sebuah undangan pernikahan salah satu sahabatku. Dengan dress warna merah yang kau kenakan dan selalu membuat semua mata terpana karena begitu anggunnya dirimu, aku tak ingin lupa hal itu. Lalu kita habiskan hari itu dengan menikmati senja di pesisir pantai, bertemankan deburan ombak dan bisikan angin yang bertiup seolah mengiringi perbincangan kita kala itu. Sedikit berat memang, diskusi rasa menghadap senja adalah hal tersulit. Namun apalah daya ...

1. AWAL YANG BAIK

Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, sudah terlalu larut untuk wanita sepertinya masih berada di sebuah café kecil disudut kota ini. Sepertinya dia masih mahasiwi baru alias maba, lagi lembur tugas kuliah yang nanti harus dikumpulkan. Aku hanya bisa mengamati sambal menerka siapa wanita ini dan apa yang sedang ia kerjakan hingga selarut ini. Namaku Adi, dua puluh tiga tahun mahasiswa semester tua yang nggak selesai-selesai mengerjakan skripsi. Aku sering di café ini, entah sekedar nongkrong sama teman sejawat seperjuangan ataupun ngerjain tugas-tugas kuliah yang terkadang menyita waktu tidurku. Café kecil yang tidak terlalu ramai, dengan interior yang cozy, kopi yang nikmat dengan takaran yang pas, dan alunan music indie yang selalu diputar setiap waltu. Yaa cofeeshop memang terkenal dengan lagu-lagu indie yang khas dengan para penikmat kopi. Malam ini aku melanjutkan skripksianku yang udah beberapa minggu terabaikan, Lelah dan juga bosan dengan revisian yang tak kunjung usai dar...