Dua jam sudah ku terjebak didalam ruangan bersama kerumunan orang yang asik dengan dunianya sendiri. Begitupun aku yang masih disini bersamamu bercengkrama dan melepas penat. Seperti biasa dengan secangkir kopi dan juga segelas milkshake dengan sedikit es. Dik, mungkin itu panggilan untuk perempuan yang umurnya setahun lebih muda dariku. Tidak terpaut terlalu jauh namun terkadang umur tidak bisa dijadikan patokan tentang siapa yang lebih dewasa.
Belum lama mengenal dan sekarang kita dalam sebuah komitmen yang bisa dibilang baru saja dimulai. Bagiku itu sulit, bahkan butuh waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan semua ini. Dulu aku pernah pergi, entah karena suatu alasan yang jelas memang meyakinkan hati itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku tau bagaimana rasanya setelah terlalu dekat kemudian pergi ditinggalkan, salah satu yang membuatku yakin adalah kamu tidak pergi dan menungguku kembali pulang. Benar, Tuhan Maha membolak balikan hati manusia.
Malam itu, tepat dibawah langit lepas bertemankan bintang dan keramaian kota jogja kala itu, suasana yang membuatku rindu jika sedang tidak di jogja. Sebuah rencana berbahaya yang kutunda berhari-hari pun akhirnya terjadi. Kusiapkan mental baja dengan pertahanan berlapis seperti panglima dalam medan perang. Dengan segala kemungkinan yang bisa kudapatkan pada malam itu. Pasrah, adalah sebuah kata yang bisa mewakili perasaan kala itu. Satu kata yang kutunggu pun akhirnya terucap dengan lantang penuh keyakinan. Bahkan senyum manismu malam itu membuatku yakin dengan apa yang sudah kau ucapkan.
Terimakasih sudah mau menemaniku melihat pelangi setelah menahan terpaan badai.
Terimakasih sudah mau menemaniku melihat pelangi setelah menahan terpaan badai.
Komentar
Posting Komentar