Setahun sudah kita berpisah dengan alasan yang hingga saat ini tak pernah kumengerti, sebuah pesan singkat muncul di jendela notifikasi yang tak pernah kuharapkan. Sebuah sapaan singkat dan bertanya kabar. Hari terus berlalu hingga kita kembali menjalin komunikasi yang intens setiap harinya. Kenangan yang perlahan mulai bisa kusimpan dalam kotak pun kau bongkar dengan begitu cepat, seolah mengingatkan tentang janji dan semua cita yang pernah didiskusikan bersama.
Ujian semester telah usai, kala itu minggu dimana kita pernah menghadiri sebuah undangan pernikahan salah satu sahabatku. Dengan dress warna merah yang kau kenakan dan selalu membuat semua mata terpana karena begitu anggunnya dirimu, aku tak ingin lupa hal itu. Lalu kita habiskan hari itu dengan menikmati senja di pesisir pantai, bertemankan deburan ombak dan bisikan angin yang bertiup seolah mengiringi perbincangan kita kala itu. Sedikit berat memang, diskusi rasa menghadap senja adalah hal tersulit. Namun apalah daya kita sebagai manusia yang hanya bisa berusaha, mengupayakan untuk kembali mengulang janji dan cerita yang belum usai ditulis. Kau memilih jalan ceritamu sendiri, tanpa permisi diam-diam kau berdoa agar menjadi miliknya. Ya... miliknya yang dulu pernah menyiakanmu.
Akhirnya kumengerti, manusia hanya bisa berusaha dan mengupayakan karena hasil tetap saja Tuhan yang akan menuliskan cerita terbaik tentang kita didalamnya.
Komentar
Posting Komentar