Perlahan sebenarnya aku sudah lupa, tapi Tuhan mengingatkan kembali rasa itu. Rasa yang dulu sempat membuatku terbang bebas di langit lepas dan terhempas angin lalu. Tapi ternyata itu hanya ujian yang akan membuatku menjadi lebih kuat, kurasa...
Itu bukan salahmu, aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Itu salah arogansiku, anggap saja seperti itu. Atau mungkin karena aku bodoh dalam percintaan, yang mendapat nilai nol dari sepuluh. Ingin rasanya marah pada diri ini kenapa masih saja berharap pada manusia lagi...
Harusnya aku berhenti kala tujuanku tak lagi bisa kucapai, kala tujuanku semakin menjauh, kala semua yang kuperjuangkan tak lagi pernah kau pedulikan. Aku patah karena resah, resah pada tujuan yang salah.
Inginku mengadu pada Tuhanku karena resah mencintai manusia, tapi apakah aku pernah mengadu pada Tuhan jika aku mencintai Tuhanku.
Komentar
Posting Komentar