Belakangan ini temu hanyalah sebatas rindu. Kamu yang mulai menata masa depanmu, fokus dengan karirmu dan aku yang juga sedang melanjutkan study dan juga berfokus pada karir. Terkadang rindu berbisik dan membuatku memutar otak tentang bagaimana cara untuk menyampaikan rindu. Apalagi senja sudah bergegas sebelum ku titipkan rindu, bintang juga sedang berteduh diantara langit mendung di malam ini, semakin larut dan hanyut oleh rintik hujan yang selalu jatuh. Mungkin memang kalimat temu hanya sebatas rindu yang bahkan tak pernah tersampaikan. Seperti kapal yang karam kala diterpa badai di samudra lepas. Juga burung yang bingung berlalu-lalang kala tempat singgahnya diambil oleh manusia tanpa permisi.
Malam itu sehabis hujan, bulan dan bintang enggan menyapa. Hanya angin malam yang menyapaku dingin, dan kamu yang memberi kehangatan pada hati yang mulai kau tata hingga rapih. Kusut dan rapuh itu dulu, jauh sebelum ada kita dihidupku. Goresan tinta abu-abu yang semakin tak menentu. Hingga kini kau berikan tinta warna warni tuk menuliskan semua cerita kemarin, hari ini, bahkan esok yang selalu kita citakan. Kadang lucu memperhatikan diri ini yang menjadi kekanakan kala bersamamu, seperti bersama teman masa kecil yang bercanda hingga tertawa lepas tanpa memikirkan dunia yang semakin tak terkendali. Tertawa lepas bersamamu tanpa alasan menjadikanku lupa akan kerasnya kehidupan. Beban yang terasa seolah hilang entah kemana. Menjadi bahagia karena ada kita diantara kamu dan aku adalah hal sederhana yang selalu kujadikan alasan untuk singgah dan menetap.
Komentar
Posting Komentar